Kegiatan Seru Dalam Ekskul Rohis
Mentari Jumat siang itu masih gagah bersinar, namun semilir angin lembut mulai menyapa saat jarum jam menunjukkan pukul 13.00. Di Masjid Nurul 'Ilmi SMPN 160 Jakarta, tawa riang dan celotehan santai mulai berganti menjadi sapaan salam yang lebih khidmat. Bukan karena pelajaran agama, melainkan karena inilah waktunya ekstrakurikuler Rohani Islam (Rohis) dimulai. Setiap Jumat, jam satu siang hingga dua, kami berkumpul di sini, dipandu oleh Kak Sopi, sosok pelatih Rohis yang selalu ceria, sabar, dan penuh ilmu. Bagi kami, hari Jumat bukan hanya tentang sholat Jumat, tapi juga tentang berkumpul bersama di Rohis, mengisi rohani dan menjalin silaturahmi.
Kegiatan Rohis kami terkadang diawali dengan semangat gotong royong, yaitu bersih-bersih masjid. Ini bukan sekadar tugas, melainkan bagian dari ibadah dan bentuk rasa syukur kami atas fasilitas yang diberikan. Dengan sigap, kami membagi tugas. Ada yang menyapu lantai, membersihkan karpet dengan vacuum cleaner, mengelap kaca jendela hingga kinclong, merapikan mukena dan sajadah, bahkan tak jarang kami ikut membersihkan tempat wudhu yang terkadang luput dari perhatian. Kak Sopi selalu mengingatkan, "Kebersihan itu sebagian dari iman. Masjid adalah rumah Allah, jadi sudah sepantasnya kita menjaganya agar selalu bersih dan nyaman bagi siapa pun yang ingin beribadah." Kata-kata Kak Sopi selalu menancap di hati kami, membuat kegiatan bersih-bersih ini terasa ringan dan penuh makna. Di tengah kesibukan itu, kadang terdengar gelak tawa saat ada salah satu dari kami yang 'ketiban' sapu atau tidak sengaja menumpahkan air lap. Momen-momen inilah yang merekatkan kebersamaan kami.
Setelah masjid bersih dan rapi, saatnya kami berkumpul melingkar di salah satu sudut masjid yang adem, biasanya di dekat jendela besar yang anginnya sepoi-sepoi. Bagian ini adalah sesi belajar materi. Kak Sopi selalu punya materi menarik dan relevan dengan kehidupan remaja, mulai dari akhlakul karimah, pentingnya menuntut ilmu, bagaimana menghadapi tantangan pergaulan, hingga kajian tentang sejarah Islam yang inspiratif. Cara Kak Sopi menyampaikan materi pun sangat menyenangkan. Ia jarang sekali berceramah satu arah. Sebaliknya, ia sering membuka diskusi, mengajukan pertanyaan pancingan, dan mendorong kami untuk berbagi pendapat atau pengalaman. Misalnya, suatu Jumat, kami membahas tentang pentingnya kejujuran dalam bergaul. Kak Sopi memulai dengan sebuah kisah nabi yang terkenal dengan kejujurannya, lalu ia bertanya, "Menurut kalian, kenapa sih jujur itu penting banget di era sekarang ini? Ada yang pernah ngerasain rugi karena nggak jujur atau untung karena jujur?" Pertanyaan-pertanyaan seperti ini selalu memicu perdebatan seru dan membuka wawasan kami.
Untuk menguji pemahaman kami terhadap materi yang telah disampaikan, Kak Sopi sering mengadakan games tanya jawab yang sangat interaktif dan kompetitif. Games ini bukan hanya menguji pengetahuan, tetapi juga melatih kecepatan berpikir dan keberanian untuk berbicara di depan umum. Kami bisa dibagi menjadi beberapa kelompok, lalu Kak Sopi akan mengajukan pertanyaan seputar materi minggu itu atau materi-materi sebelumnya. Kelompok yang paling cepat mengangkat tangan dan memberikan jawaban benar akan mendapatkan poin. Kadang ada hadiah kecil yang disiapkan Kak Sopi, seperti permen atau snack, yang tentu saja menambah semangat kami. Pernah suatu kali, pertanyaan Kak Sopi tentang rukun iman membuat kami semua berebut menjawab. Atau ketika Kak Sopi menanyakan definisi tawakal, beberapa di antara kami sibuk merangkai kalimat terbaik agar jawabannya sempurna. Games ini selalu menciptakan suasana yang riuh, penuh tawa, dan sesekali teriakan 'yess!' atau 'ahh!' ketika jawaban kami tepat atau meleset.
Bagian yang paling mendebarkan, sekaligus paling penting, adalah sesi membaca Al-Quran atau Iqro' masing-masing di hadapan Kak Sopi. Ini adalah momen personal antara kami dengan pelatih. Satu per satu, kami maju ke hadapan Kak Sopi membawa mushaf Al-Quran atau buku Iqro' kami. Kak Sopi akan mendengarkan dengan seksama bacaan kami, mengoreksi tajwid yang kurang tepat, makhorijul huruf yang keliru, atau bahkan intonasi yang kurang pas. Ia selalu memberikan masukan dengan cara yang sangat lembut dan membangun, tidak pernah membuat kami merasa malu atau minder. "Coba huruf 'ain'-nya lebih tebal lagi, Nak," atau "Waqafnya di sini ya, biar nafasnya cukup," begitu kurang lebih arahan dari Kak Sopi. Bagian ini sangat berharga bagi kami, karena tidak banyak kesempatan di sekolah untuk mendapatkan bimbingan intensif seperti ini. Beberapa teman yang masih di tahap Iqro' juga mendapatkan perhatian penuh, dibimbing dari dasar hingga mereka bisa lancar membaca.
Suasana khusyuk memenuhi sudut masjid saat satu per satu teman kami bergantian membaca. Ada yang sudah lancar dan percaya diri, namun tak sedikit pula yang masih terbata-bata atau merasa gugup. Namun, kehadiran Kak Sopi dengan senyumannya yang menenangkan selalu berhasil menghilangkan kegugupan itu. Ia sabar menunggu kami menyelesaikan satu ayat, bahkan satu baris, lalu memberikan koreksi dengan penuh kasih sayang. Setelah membaca, kami bisa bertanya tentang arti ayat yang kami baca atau makna dari suatu hukum tajwid. Kak Sopi dengan senang hati akan menjelaskan, kadang diselingi dengan cerita atau contoh agar kami lebih mudah memahaminya. Sesi ini bukan hanya tentang memperbaiki bacaan, tetapi juga menumbuhkan kecintaan kami terhadap Al-Quran dan keinginan untuk terus belajar dan memahami isinya.
Bagi kami, Rohis bukan hanya sekadar ekskul, tetapi sudah seperti keluarga kedua. Jumat siang bersama Kak Sopi adalah oase di tengah padatnya jadwal sekolah dan aktivitas lainnya. Di sana, kami tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga belajar kebersamaan, tanggung jawab, kepercayaan diri, dan yang paling penting, bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik sesuai ajaran Islam. Dari bersih-bersih masjid hingga mendengarkan lantunan ayat Al-Quran yang kami baca, setiap detiknya penuh makna. Berkat bimbingan Kak Sopi, kami tak hanya tumbuh dalam ilmu, tapi juga dalam iman dan ukhuwah. Rohis SMPN 160 Jakarta, dengan segala kesederhanaan dan kebersamaannya, adalah bukti nyata bahwa berislam itu indah, dan belajar agama bisa menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan dan mencerahkan.
Komentar
Posting Komentar